Burung hantu bukanlah ancaman, mereka adalah sahabat manusia.
Burung hantu memiliki peran penting bagi ekosistem. Sebagai top predator atau predator puncak dari rantai makanan, mereka memangsa berbagai mamalia kecil, salah satunya tikus. Mereka juga memangsa serangga sehingga jumlahnya tetap terkontrol dan ekosistem tetap seimbang.
Lalu, apa yang terjadi jika burung hantu hilang / punah?
Dampaknya yaitu, populasi tikus maupun serangga yang tidak terkontrol dan dapat menjadi hama yang merugikan manusia.
Tikus dapat menjadi hospes atau perantara berbagai jenis agen penyakit seperti bakteri, virus, dan parasit yang dapat ditularkan ke manusia. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan melalui urin tikus yang terinfeksi.
Penularan dan penyebaran penyakit ini sangat mudah karena dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan urin, tanah, dan air yang terkontaminasi urin hewan yang sakit.
Penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan gagal ginjal, meningitis, gagal hati, bahkan hingga kematian.
Melindungi dan menjaga keberadaan satwa liar, khususnya burung hantu, adalah tugas kita bersama karena dengan menjaga mereka tetap lestari kita juga menjaga bumi dan kehidupan bagi generasi mendatang.
Menyakiti dan membunuh mereka sama dengan membuka gerbang perlahan menuju kebinasaan, karena bumi kehilangan pelindung-pelindung alaminya.
"Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat dinilai dari cara hewan-hewannya diperlakukan.". Mahatma Gandhi.
Mari kita jaga dan lindungi mereka agar tetap lestari.
Salam Lestari.


